BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

01 September 2009

DENDAM

Karya : Amri Hj. Yahya

RIO membanting figora di tangannya hingga hancur berantakan.puing-puingnya berserakan memenuhi lantai.Terlihat gerahamnya mengeras petanda amarah tengah memenuhi lantai.Kegelisahan begitu kuat memancar dari wajahnyayang terlihat muram. Sebentar-sebentar ia menyambar Handphone Nokia di atas tempat tidur.Dan berkali-kali ketika ia gagal menyambungkan suara.Betapa ia ingin mendengar suara orang yang dituju itu.Ia inginkan jawapan.Ya,harus ada kepastian.

Ingin rasanya ia lampiaskan kegelisahan dengan menghisap sebatang rokok.Seperti yang biasa dilakukannya ketika menikmati hari libur.Agak sesak yang memenuhi dadanya bisa sedikit enyah bersama kepulan asap rokok itu.

“Sial!” umpatnya gusar. Karena malam itu tak mungkin ia melakukannya.Bisa-bisa perempuan tua yang sering dijulukinya Lampir itu mendampratnya habis.Seperti yang sudah sering ia terima.Perempuan berusia 70 tahun yang dijaganya itu terlalu kasar bila sedang berang.Tak jarang ia memanggil Rio dengan sebutan Gei bo.Mungkin perempuan tua itu terlalu memperhatikan penampilan dan sikap Rio selama bekerja kepadanya. Rio serasa alergi mendengar sabdanya.Apa salahnya Gei bo,ini adalah sebuah pilihan. Tak merugikan orang lain. Dosa ataupun pahala aku sendiri yang menjalani. Batin Rio memberontak. Ia tak suka siapapun mengusik privacynya.

Malam makin merangkak melewati pertengahan.Lagi-lagi diambilnya Handphonenya.

“Yess!!!” pekiknya tertahan. Tak sadar ia berjingkrak kegirangan di atas tempat tidur. Mulutnya berdesis tak sabar menunggu dering di seberang terjawab.

“Yang, aku ingin bicara.Jelaskan padaku, apa hubunganmu dengan laki-laki itu?kamu tahu dia hanya...tut...tut...tut...” kalimat yang memburu dari bibirnya itu harus terhenti ketika terdengar nada putus dari seberang. Hanya beberapa detik saja orang di seberang telephone mengangkat panggilannya.

“Shit!!!” dibantingnya dengan sekuat tenaga benda ajaib di tangannya itu. Dan dalam hitungan detik benda itu telah hancur berkeping.Berserakan,menyusul bangkai figora yang telah menjadi korban sebelumnya.

Rio terduduk lemas di lantai kamar yang tak begitu luas itu. Matanya mulai berkaca-kaca. Disekanya butiran yang memaksa keluar itu.Ia benci air mata.Ia tak ingin menangis. Bukankah sudah sejak sepuluh tahun lalu ia membenci air mata?Sejak ayahnya pergi dengan perempuan lain, dan meninggalkan ibunya sendiri di gubuk bambu yang mereka tempati. Baginya saat itu adalah air mata terakhir demi menemani luka ibundanya. Ia bertekad,HongKong adalah penebusan kekalahan nasibnya.

Ia masih bungkam. Tatapannya lekat pada selembar photo dirinya yang tengah memeluk tubuh wanita cantik. Gambar itu tercampak di antara puing-puing figora.Wanita itu adalah Hesti,istrinya.Pelan dipungutnya gambar yang tengah tersenyum itu. Di tatapnya lebih lama tiap lekuk tubuh perempuannya. Semua itu pernah kumiliki, desisnya pelan. Tiba-tiba diremas dan dilemparkanya benda itu ke pojok ruangan.Hatinya benar-benar sakit. Panas dan terluka.

Lewat tengah malam tak juga matanya mau terpejam. Hatinya dipenuhi bara dendam. Bayangan Hesti tengah bercegkrama dengan laki-laki berhidung mancung itu,berkelebatan memenuhi ruang imajinasinya. Canda manja perempuan itu seolah mencibirnya. Menghadirkan penghinaan atas statusnya sebagai suami. Aku harus membuat perhitungan. Tegasnya geram.

****

Diamatinya orang-orang yang berlalu lalang di sepitar air mancur Victoria Park.Seolah ia yakin bahwa sasarannya akan melewati tempat itu. Tak dihiraukannya hiruk piruk suara sebuah pertunjukan Dangdut di lapangan rumput sebelah dalam.Baginya membuat perhitungan dengan perempuan pengkhianat itu lenih memuaskan hatinya. Daripada menonton pertunjukan erotis tubuh perempuan. Toh ia telah puas menikmati gerak tubuh Hesti selama ini. Tiga tahun bukan waktu yang singkat, untuk memahatkan tiap-tiap kenangan yang dilukisnya bersama perempuan itu.

Ia tak peduli pandangan apapun yang dilemparkan orang-orang di sekitarya tentang hubungannya dengan Hesti.Mereka bilang hubugan itu nyleneh dan tak wajar.Baginya itu bukan alasan untuk merubah prinsipnya. Bahwa hidupnya adalah hak dan tanggungjawabnya.Mau ia kemanakan langkahnya, hanya ia yang berhak menentukan. Bukan mereka,orang-orang itu. Toh di kalangannya banyak yang melakukan hal yang sama. Ia tak merasa perlu untuk mengikuti arah yang sesuai keinginannya.Baginya bisa selalau bersama Hesti adalah ketenangan.Yang membuatnya lepas dari tiap cekikan masa lalu tentang ayahnya.Laki-laki yang telah mengajarkannya tentang penghianatan hidup.Penghianatan akan tanggung jawab.Ia tak mungkin memilih salah satu dari kaum itu.

Namun kenyataan sangatlah membuatnya sakit. Perempuan yang diharapkannya mau mendampingi perjalanannya itu,justeru berpindah ke dalam pelukan laki-laki. Apa sih yang sudah diberikan laki-laki itu? Sehingga Hesti harus meninggalkan aku dalam luka. Masih kurangkah pengorbananku selama ini?Sehingga perempuanku itu menghianatiku?.Berbagai tanya berjubelan di dalam relung hatinya. Ia tak habis pikir dengan kenyataan itu.sedang semua telah diberikannya.

Disulutnya sebatang rokok untuk kesekian kalinya.Sebentar-sebentar tangannya meraba saku celana komprangnya.Di balik kaca mata gelap tatapannya terus mencari.Ia tak peduli dengan para pedagang liar yang menyapanya beberapa kali.Para wanita yang berasal dari negaranya itu tak jemu menawarkan dagangan padanya.Entah katu telephone ataupun makanan. Bahkan rokok,seperti yang tengah dihisapnya.Hanya gelengan yang terpaksa disuguhkannya sebagai jawapan.Rio tak hendak bersuara. Dirinya hanya ingi bertemu Hesti, dan menyelesaikan masalahnya.

Hampir saja sosok penampilan maskulin itu kehilangan kesabaran.Ketika tiba-tiba sudut matanyamenangkap kelebatan sosok yang ditunggunya. Seorang perempuan berwajah cantik. Dandanannya serba minim. Dialah Hesti,wanita yang diperistrinya selama 3 tahun sejak kedatangannya di Negara bebas ini.Namun yang dilihatnya kini,perempuan sintal itu tengah bergelayut manja dalam rengkuhan seorang laki-laki.Kikik manjanya terasa merobek-robek gendag telinga Rio.Dan menusuk tajam ke dalam hatinya.Mamar dan sakit.

Hatinya terbakar.Bara kebencian yang dipendamnya mendesak hendak menyembur keluar.Dikejarnya sepasang manusia berpeluk setan itu.

“Hesti!” panggilnya sembari melangkah cepat menghampiri dua sosok yang tengah berjalan berhimpitan itu.Selama tiga tahun tak sekalipun ia memanggil perempuannya itu dengan nama telanjang.Sayang adalah persembahan terindah untuk sosok yang dicintainya itu.Kedua manusia yang berbalut asmara didepannya menghentikan langkah.Tersirat pancaran kegelisahan dari wajah cantik berbibir tipis di depannya. Buru-buru perempuan itu melepaskan diri dari pelukan laki-lakibertubuh ceking,dan berkulit hitam itu.Wajahnya memerah dalam jilatan mata Rio.

Sejenak mereka saling diam.Beberapa kali perempuan itu menundukkan wajahnya ketika mata tajam Rio menelanjanginya.Ia kelihatan salah tingkah dan bingung.Bibirnya bergetar menahan sesuatu. Rio hanya menatap wajah di depannya dengan hujaman menukik.Hantinya bergemuruh hebat.

“Rio, maafkan aku. Hubungan kita tak mungkin diteruskan. Aku perempuan normal, Rio.Aku butuh...”perempuan itu terdiam.Ia tak melanjutkan kalimahnya.

“Kau butuh keputusan maksudmu?” sahut Rio dengan nada geram.Matanya memerah,nafasnya naik turun tak beraturan. Di depannya perempuan itu semakin menunduk gelisah.Betapa ingin Rio menghajarnya. Namun bayangan manja perempuan itu melintas silih berganti. Membuat perasaannya semakin teraduk.Ia bimbang menentukan sikap yang telah dipersiapkannya malam sebelumnya.

“Rio, dengarkan aku....kita kembali saja pada kodrat.Aku butuh laki-laki sesungguhnya.Kau pun juga begitu, bukan?” Hati-hati Hesti mencoba menjelaskan maksudnya pada Rio.

“Kapan kau akan bernikah dengan laki-laki lintah itu?” tanya Rio datar.Matanya melirik sinis pada laki-laki yang hanya berdiri melihat adegan dirinya bersama Hesti.

“Rio,please jangan berkata begitu.Ia mencintaiku. Ia tak seburuk yang kau kira” suara Hesti pelan memohon.

“Oh iya,sudah berapa kali kau ditidurinya sehingga kau terpesona padanya?” sambung Rio masih dengan nada sinis.Wajah perempuan di depannya itu terlihat menegang.Emosi mulai terlihat menguasai hatinya setelah didengarnya kalimah kasar itu.

“Mengertilah,Rio.Kita ambil jalan sendiri-sendiri” dengus Hesti tersinggung.Selesai berkata begitu, ia membalikkan badannya tanpa menatap wajah Rio. Dengan menggamit lengan laki-lakinya,perempuan itu berlalu meninggalkan sosok yang baru dilepasnya.Ada amarah menguasai hatinya.Rio menatap kedua punggung itu penuh kebencian. Sejenak ia terlihat berusaha menguasai diri. Ia mematung dalam derai nafas yang naik turun

Tiba-tiba tubuh yang semula hanya diam terpaku ia bergerak cepat.Mengejar kedua manusia yang telah mencabik harga dirinya itu. Ia tak terima diperlakukan begitu. Ia bukanlah robot yang tak berperasaan.Yang tahan melihat penghianatan berlangsung mentah-mentah di depan matanya.Kalap. Mata hatinya gelap tertutup dendam.Ia mengejar, dan langkahnya terus memburu.Sementara kedua manusia di depannya tak menyadari perburuan itu.

Ketika jarak sasarannya tinggal sejengkal,diraihnya sebuah benda dari saku celananya.Benda pipih mengilat itu siap ia hujamkan ke tubuh perempuan yang mencampakkannya itu.Tekadnya telah bulat. Harus ada yang kalah. Dia atau perempuan itu.Atau lebih baik keduanya harus mati.Bukanlah janji sehidup semati telah Hesti ikrarkan dulu?. Tak sudi ia hidup dalam kekosongan seperti dalu.Cukup ibunya yang mengalami kesengsaraan karena penghianatan.

Satu langkah lagi benda pipih itu akan menjumpai sasarannya.Mata penuh bara Rio terpejam mengambil nafas.Tangan yang kian bergetar itu terus terayun.Namun dalam pejamnya, tiba-tiba muncul sekelebat bayangan putih. Berjalan tergesa-gesa ke arahnya,membuat matanya hatinya silau.Sedang bayangan itu kian pasti dan teramat dekat.Sejenak ia ragu untuk meneruskan ambisinya.Ia takut salah sasaran. Namun mata pisaunya terlanjur terdorong oleh energi emosi. Dan kurang sejengkal saja menancaplah di punggung Hesti.Dua kekuatan menguasai alam bawah sadarnya.Di antara pekat dendamnya,cahaya itu mengoyak nyali. Sedang dendamnya kian bergolak hebat.Dua kekuatan itu beradu dan menimbulkan pijar-pijar warna pelangi yang berpendar.Kepalanya terasa berputar dan berat. Tubuhnya oleng.Sedang pisau itu...

“Akh...!” Terdengar suara pekikan seorang perempuan.

Dunia Rio berhenti ketika ia merasa ujung pisaunya telah menancap.Tubuhnya limbung di antara lalu lalang manusia di taman luas Victoria.

***

Ia mencoba membuka matanya.Belum ada yang mampu dilihatnya dengan jelas.Semua samar dan reman-remang.Hanya terdengar alunan nada pelan bersahutan.Ia mencoba mengenali suara-suara itu,makin lama makin jelas terdengar. Ya,alunan itu...nada itu...ia mengenali, tapi kapan?Sejenak sarafnya menegang,menimbulkan rangsangan ditengkuknya.Ia diam di antara sadar dan tidak. Tiba-tiba hatinya disergap ketakutan yang amat sangat.Apakah aku telah mati?inikah alam kubur itu?. Tubuh lemahnya menggigil, disertai keringat dingin merembis dari pori-pori kulitnya.Ia mencuba meraba kepalanya yang terasa pening.Terasa oleh telapak tangannya benda basah menempel di keningnya.Ia tersentak dan berusaha bangkit sekuat tenaga. Namun ada yang mencegahnya.

“Sudah sedar rupanya,jangan bangun dulu.Tubuhmu masih lemah” suara lembut perempuan menyelusup di antara alunan nada-nada indah yang merasuki hatinya menyusur sebuah sentuhan basah di wajah dan lehernya.Matanya mulai dapat menangkap sesuatu. Seorang gadis berbalut pakaian putih tersenyum memandangnya. Hanya wajah gadis itu saja yang ditatapnya samar.Tapi kesadaran Rio belum pulih sepenuhnya. Ia diam dan mencoba mengingat kejadian yang menimpa dirinya.

Tiba-tiba tubuhnya kembali tersentak. Ia melonjak berdiri, namun ia kembali limbung dan melemah.Pandangan matanya berputar-putar mengenali arah.Nafasnya memburu bagai orang kebingungan.

“Hesti, di mana dia?Aku telah membunuhnya” katanya panik sambil memegangi kepalanya.Ia rasakan pusing yang teramat sangat.

“Ria, tenanglah. Tak ada yang kau bunuh.” Bujuk gadis di sampingnya.Lembut sambil berusaha memeluk tubuh Ria.Disibakkannya lengan pakaiannya,Rio melihat balutan putih terpercik darah di sana.Dan...Ria?nama itu...telah usangkah?Rio termangu, ia dideru berjuta perasaan yang mengaduk-aduk ingatannya.Sementara di sekitarnya banyak sekali tubuh-tubuh terbalut rapi mengitari keberadaannya semua tersenyum menyambut matanya yang terbuka.Dari bibir-bibir bersih itu kalimah-kalimah indah mengalir bersahutan.Menimbulkan pijar getaran yang menjalari nurani Rio seakan taman rumput di sana berubah menjadi hamparan beludru di matanya.

“Astagfirullah...”keluhnya pelan menutup wajahnya.Untuk kali pertama, setelah sekian lama kalimat itu tak diucapkannya sepenuh perasaan.Biasanya kalimat-kalimat kasar yang menjadi gambaran perasaannya sejak ia mulai menginjak HongKong.Mereka kah yang membawaku ke tempat ini?Tanyanya pada dirinya sendiri.

“Kenali aku, Aisyah.Dan kau...adalah Ria saudaraku.Nurul Astaria” kata gadis itu mantap sambil memaksa mata Rio untuk menatap wajahnya.Dan mata yang masih memerah itu berputar-putar tak berkedip menyusuri wajah gadis di depannya.Beberapa lamanya keningan berkerut.Ia mencoba mengingat dan terus mengingat.Lama-lama terlihat getaran dari bibirnya, dari keningnya merembes keringat dingin.Matanya mulai berkaca dan basah.

“Aisha...,itukah kamu...?.” Ditubruknya tubuh gadis di depannya. Tangisnya pecah dan menjadi.Dialah Aisha, sejuta kenangan pernah dilaluinya bersama sahabatnya itu. Isha, begitu Rio memanggilnya. Dan Ria,begitupun Aisha memanggilnya.Meski hanya bertemu di BLK sebuah PJTKI,tapi ia pernah jadikan Isha sebagai saudaranya. Betapa Rio masih ingat 3 tahun lebih yang lalu, ketika mereka sering bangun telah malam.Dan saling mengingatkan ketika senin dan kamis. Isha tak berubah.Hanya penampilannya saja kini tertutup.Mungkin jika di PJTKI diijinkan,Isha pasti akan melakukannya.

Sebentuk rasa menjalari nuraninya.Hati Rio terasa meleleh,dipeluknya kian erat sahabatnya itu beberapa lamanya.Kemudian ia bangkit.Dibawanhya langkahnya ke arah toilet yang berada di pojok taman.Di sana ia putar sebuah kran yang siap mengalir. Kemudian dibasuhnya wajahnya bersama derai air mata yang kian deras.Ia tergugu hingga tubuhnya terguncang keras. Nurul Astaria...pulanglah....bisiknya pelan diantara gemercik suara air.Batinnya perlahan terasa sejuk,sesejuk musim yang mulai meninggal panas.

***END***

0 comments: